Top Secret – Bab II

Di sebuah apartemen di bilangan mega kuningan, seorang pria paruh baya sedang duduk di depan meja ruang kerjanya. Di pangkuannya bergelayut seorang wanita berambut panjang yang sedang membenamkan wajah di lipatan-lipatan leher pria tambun itu. tanpa disadari mereka berdua, bergerak dengan gesit empat orang menuju ruangan itu, dan tanpa diduga mereka membuka pintu tanpa peringatan. Wanita dipangkuan langsung melompat dan mengancingkan blusnya yang setengah terbuka, lalu dengan pandangan marah pria tambun berkata: “Apa-apaan kalian?” bentaknya sambil meninju meja. Spontan kertas-kertas berhamburan di lantai. Menghadapi sikap itu, empat pria itu tidak bergeming, mungkin mereka sudah terbiasa dengan gertakan ataupun ancaman. “Kami telah membunuh hakim [ ... ]

Top Secret – Bab I

— From : user@anonymous.com Subject : Surat ketiga Dear, Ini peringatan ketiga dari kami, bila kalian tetap melaksanakan apa yang kalian rencanakan, kami akan melaksanakan rencana yang telah kami seruhkan, yakni menyengsarakan hidup kalian. Regard, PerAbad — Di depan monitor, seorang wanita mungil berwajah lonjong sedang terbelalak membaca email yang baru diterimanya. Wajahnya tetap terlihat cantik walau air mukanya mengisyaratkan kecemasan. Kulitnya yang putih mulus sangant kontras dengan bra dan sorth pendek hitam yang dikenakannya. Dia terkejut saat suara kring berbunyi dan terdapat chat window di sebelah kanan atas monitornya. “Kau juga meneerima surat ketiga?” Dia diam sejenak, lalu dengan tarikan napas yang dalam, jarinya yang lentik mulai menekan touch di keyboard. “Yup, [ ... ]

Rahasia Pesawat Naas

Pesawat boing 737 yang kunaiki, dengan sukses telah tinggal landas dari Bandara Internasional Sukarno Hata. Para penumpang yang sedari tadi tegang kini telah mengendurkan sabuk pengaman masing-masing. Memang mimilih pesawat yang kunaiki ini bukanlah ide yang bagus, mengingat perusahaan penerbangan ini termasuk nominasi perusahaan penerbangan terburuk di negri ini, baik dari kualitas kepegawaian, maupun pasilitas penerbangan. Tapi yang menarik, perusahaan ini mengenakan biaya yang sangat murah dan memberikan jaminan asuransi jiwa yang sangat besar. Bayangkan, perjalanan dari Jakarta ke Bangka hanya dikenakan biaya 200 ribu Rupiah, sedangkan jaminan asuransi mencapai 200 juta Rupiah. Hal ini yang membuat perusahaan ini menjadi [ ... ]

Nasehat Sahabat

Cerita humor ini telah diterbitkan pada Diffa Majalah edisi September 2011 Sore itu, dua orang sahabat, Anto dan Andri, sedang berjalan bergandengan tangan dibilangan Jalan Pajajaran Bandung, di depan YPWG. Mereka harus berjalan memepet dipinggiran trotoar, karena ditengah sudah ditumbuhi bermacam-macam tiang dan pohon tanpa daun. Bagi Andri (yang seorang tunagrahita), tidak menjadi masalah berjalan di trotoar ini, sebab ia masih dapat melakukan aktivitas layaknya orang normal. Tetapi bagi Anto (yang seorang tunanetra), sulit berjalan di sini hanya dengan mengandalkan tongkat putinya, sehingga Andri harus menuntunya, agar mereka bisa cepat sampai di GOR Pajajaran untuk latihan olaraga. Setelah bersusahpayah berjalan melewati [ ... ]

Jangan Kentut Sembarangan

“Kalau gigi bahasa inggrisnya apa ayo?” Tanya bu guru. “Tiiiiuuuut!” bunyi keras itu datang dari deretan bangku belakang. Serentak seisi kelas menjadi ramai. Sorak-sorak mulai ditujukan kepada seorang anak laki-laki yang duduk di pojok kiri ruangan kelas. Ibu guru berusaha menenangkan murid-muridnya. Dengan sekali tepukan keras, suasana kembali tenang. “Jangan ribut! Ayo apa?” Tanya bu guru lagi. “Kentut bu guru!” Serentak para siswa menjawab. “Kok kentut sih? Yang benar itu tooth!” ucap bu guru sambil menuliskan huruf di papan tulis. “Bukan itu bu!” Sanggah seorang murid yang duduk di deretan depan. “Lalu apa kalau bukan tooth?” Bu guru kembali bertanya. “Si Somat kentut bu!” Kembali sorai-sorai [ ... ]

Top Secret – Prolog

Mobil sedan mewah itu melintas mulus di sebuah jalan sempit yang sepi. Di belakang kemudi tampak seorang laki-laki kira-kira berumur lima windu menatap lurus ke depan, tapi sepertinya pandangannya menerawang ke tempat lain. “Bagaimana mungkin mereka tahu, sedangkan kami melakukannya di rumahku, di tempat yang paling aman, di tempat yang mana hanya aku dan dia dan pengawalku berada. Apakah ada yang berhianat? Apakah ini akan menghancurkan repotasiku sebagai hakim yang jujur? Hakim yang selalu memutuskan yang teradil?” Serentak lamunannya terbuyar saat disadarinya dua sepeda motor yang ditumpangi empat orang bertopeng mengepung mobilnya. Dua pucuk senjata api di masing-masing tangan orang yang [ ... ]

Rindu Berat

Malam ini masih berkabung, mungkin karena murungku masih mengurung. Hanya bisa sendiri di sini, tatap kelamnya malam dengan dalamnya perih. Rinduku terus menggebu, walau anganku hanya debu. Resahku kian gelisa, menenggelamkan jejak sadarku di merah mataku yang semakin basa. Titisnya terus menderuh, tanpa tau muara mana yang kan dituju; tanpa tau samudera mana yang terasa biru. Namunku masih di sini, menunggu kau kembali, menunggu kau semaikan sejuk udara pada sabana, memberi titis cinta pada sahara, hingga tiada lagi patamorgana, hilangkan dahaga pada kemarauku yang kering kerontang. Bdg, 08 09 08 Related posts:Kumbang Pemimpi
Category: Puisi  Tags: , , ,  Leave a Comment

Salah Sangka

Cerpen ini sudah pernah diterbitkan di Diffa Majalah. Alhamdulillah yeah?   “Dua puluh ribu saja!” Sayup kudengar desah serak laki-laki yang menunduk tepat di depan wajah seorang wanita. Tak berniat menguping, tapi rasa penasaran terus menuntunku menyimak semua ancam dan bual pedagang yang tepat berada di sampingku. Mataku beralih ke pintu, dan tampak trio pengamen bis kota manaiki undakan bis sambil membawa dua guitar dan galon air mineral. “Cepat, teman-temanku sudah naik. Kalau kau tak mau beli, mereka tak segan-segan merampokmu!” Desah serak itu kembali kudengar. Sepintas aku melihat apa yang dibawanya. Dua kotak makanan yang sudah tidak utuh, dan aku yakin isinya sudah [ ... ]
Category: Cerpen  Tags: , ,  Leave a Comment

Kumbang Pemimpi

Ku memang sang kumbang pemimpi. Dahagaku tak pernah tersirami. Hanya mampu sendiri di sini, menatap kosong pada pandanganku yang kosong. Mungkinkah aku bisa berjalan sendiri? Aku hanya bisa telusuri hidup dengan gait kupu-kupu tak berjemari, Tak tau kemana kan melangkah, selalu tak tentu arah. Aku hanya bisa merintih, menanti kepak sayapmu yang kan membawaku ke singga sana surga dan hapus segala tetes air mata. Bdg, 19 09 08 Related posts:Rindu Berat
Category: Puisi  Tags: , , ,  Leave a Comment